CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Google+ Followers

Tuesday, January 29, 2013

ya ALLAH KAU yg mengatahui kehendak IMAN dan IBADAH kami...ALLAH2




Bismillaahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah subhaanahu wata’aala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Amma ba’du.

ILAIKI AYYUHAL MUSLIMAH... (Akhwat Only)

Ukhti, Anti ana mulakan dalam materi ini tidak lain karena kemuliaan yang ada pada dirimu. Anti adalah mutiara yang indah, Anti adalah tonggak peradaban, Anti adalah pilar pembentuk generasi mendatang baik dan buruknya tergantung daripada Anti. Maka bersyukurlah keberadaan Anti dalam dien ini. Dien yang memuliakanmu dari Anti dilahirkan hingga Anti meninggal dunia.

Anti saat bayi mempunyai hak disusui, mendapatkan perhatian dan sebaik-baik pendidikan dan pada waktu yang sama ia merupakan curahan kebahagiaan dan buah hati bagi kedua ibu dan bapaknya serta saudara laki-lakinya.

Dan saat Anti usia remaja, Anti dimuliakan dan dihormati. Walimu cemburu karenanya, ia meliputimu dengan penuh perhatian, maka ia tidak rela kalau ada tangan jahil menyentuhmu, atau rayuan-rayuan lidah busuk atau lirikan mata (pria) mengganggumu.

Dan ketika Anti menikah, maka hal itu dilaksanakan dengan kalimatullah dan perjanjian yang kokoh. Maka Anti akan tinggal di rumah suami dengan pendamping setia dan kehormatan yang terpelihara, suami berkewajiban menghargai dan berbuat baik (ihsan) kepada Anti dan tidak menyakiti fisik maupun perasaan Anti.

Apabila Anti telah menjadi seorang ibu, maka (perintah) berbakti kepadanya dinyatakan berbarengan dengan hak Allah, kedurhakaan dan perlakuan buruk terhadapnya selalu diungkapkan berbarengan dengan kesyirikan kepada Allah dan perbuatan kerusakan di muka bumi.

Apabila Anti sebagai saudara perempuan, maka Anti adalah orang yang diperintahkan kepada saudaranya untuk dijalin hubungan silaturrahim, dimuliakan dan dilindungi.

Apabila Anti sebagai bibi, maka kedudukannya sederajat dengan ibu kandung di dalam mendapatkan perlakuan baik silaturrahim.

Apabila Anti sebagai nenek atau lanjut usia, maka kedudukan dan nilainya bertambah tinggi di mata anak-anak, cucu-cucu dan seluruh kerabat dekatmu. Dan permintaanmu hampir tidak pernah ditolak dan pendapatmu tidak diremehkan.
Subhaanallaah

Ukhti, kebaikan dan keutamaan yang telah diberikan kepada Anti seharusnya dijaga dan dipelihara dengan baik. Dan itu dilakukan dengan melakukan perintah-perintah Sang Maha Pencipta yang mengenal betul akan fitrah Anti sebagai wanita. Dia menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan dengan tugas yang sama yaitu beribadah kepada-Nya. Hanya saja dalam bentuk penciptaan keduanya diberikan sedikit perbedaan sehingga berpengaruh kepada sebagian hukum-hukum syariat. Seperti disyaratkan agar wanita-wanita muslimah tetap tinggal dirumah suaminya, ini bukanlah sebuah bentuk diskriminasi melainkan menjaga kehormatan diri dari gangguan-gangguan yang akan merusak kehormatannya. Dan Allah Maha Mengetahui betul akan maslahat yang akan didapat jika kita melaksanakan perintah-Nya dengan sepenuh hati.

Ukhti, jangan Anti hilangkan kehormatan yang ada dengan perilaku-perilaku hina yang seharusnya tidak layak untuk menghapus segala kemuliaan tersebut. Jangan Anti serahkan kehormatan kepada yang bukan pemiliknya, jangan Anti biarkan kehormatan yang ada menjadi bulan-bulanan para srigala yang tidak bertanggung jawab.

Ukhti, satu hal yang ingin ana ingatkan disini. Jangan pernah menjalin hubungan yang diharamkan dengan seorang pria tanpa ikatan pernikahan, karena itu semua hanya akan menghinakan dirimu, hanya akan merugikan dunia dan akhiratmu dan akan menjadikan dirimu terjerumus kedalam lubang kehinaan dan kehancuran yang tiada berujung. Sehingga tiada memiliki setitik nilai pun dihadapan orang-orang beriman.

Jika Anti berharap seorang lelaki shalih, mujahid, bertanggungjawab, maka semua itu tidak akan didapat dengan menjalin hubungan pra pernikahan. Karena ana katakan bahwa pria-pria seperti itu hanya ingin mencari kesenangan bersama dirimu. Ucapan-ucapan manis yang mereka berikan kepada-Mu hanya untuk menjeratmu kedalam lubang kehinaan yang tiada bertepi. Dan pada saat itu setan akan terus berupaya melanggengkan hubungan kalian dengan berbagai dalihnya. Sehingga terjadilah apa yang disebut dengan PERZINAHAN. Naudzubillah...

Ukhti, lelaki shalih hanya akan didapat jika Anti betul-betul menjaga marwah diri, menjaga hijab yang telah dikenakan maupun yang ada dalam diri. Seorang mujahid hanya akan didapat jika Anti bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya kemudian bersabar atasnya. Dan semua kriteria diatas adalah manusiawi dimana setiap wanita beriman dapat merealisasikannya. Hanya saja kadar kesungguhan dan kesabaranlah yang menentukan kita layak mendapatkannya atau tidak.

Tapi jika Anti berharap selain daripada diatas, maka berbuatlah sesukamu, campakkan hijabmu, tebarkan pandanganmu, umbar pesonamu maka niscaya akan banyak pria-pria dunia yang akan mengejarmu, 'mencintaimu dengan segenap jiwa dan raganya' (basi lagi murahan!). Yakinlah, jika itu semua yang hendak kalian capai.

Ukhti, Semoga kisah berikut dapat memberi pencerahan kepada Anti.

KISAH MUTHI’AH
“Fatimah anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami?” tanya sang ayah yang tak lain adalah Nabi SAW. “Tentu saja, wahai ayahku”

“Tidak jauh dari rumah ini berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Siti Muthi’ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu”.
Gerangan amal apakah yang dilakukan Siti Muthi’ah sehingga Rasulpun memujinya sebagai perempuan teladan? Maka bergegaslah Fatimah menuju rumah Muthi’ah dengan mengajak serta Hasan, putra Fatimah yang masih kecil itu.

Begitu gembira Muthi’ah mengetahui tamunya adalah putri Nabi besar itu. “Sungguh, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu ini, Fatimah. Namun maafkanlah aku sahabatku, suamiku telah beramanat, aku tidak boleh menerima tamu lelaki dirumah ini.”
“Ini Hasan putraku sendiri, ia kan masih anak-anak.” kata Fatimah sambil tersenyum.
“Namun sekali lagi maafkanlah aku, aku tak ingin mengecewakan suamiku, Fatimah.”
Fatimah mulai merasakan keutamaan Siti Muthi’ah. Ia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita ini. Lalu diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke Muthi’ah.
“Aku jadi berdebar-debar,” sambut Siti Muthi’ah, gerangan apakah yang membuatmu begitu ingin kerumahku, wahai puteri Nabi?”
“Memang benarlah, Muthi’ah. Ada berita gembira buatmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku kesini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karena itulah aku kesini untuk meneladanimu, Wahai Muthi’ah.”

Muthi’ah gembira mendengar ucapan Fatimah, namun Muthi’ah masih ragu. “Engkau bercanda sahabatku? aku ini wanita biasa yang tidak punya keistimewaan apapun seperti yang engkau lihat sendiri.”
“Aku tidak berbohong wahai Muthi’ah, karenanya ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya.” Siti Muthi’ah terdiam, hening. Lalu tanpa sengaja Fatimah melihat sehelai kain kecil, kipas dan sebilah rotan di ruangan kecil itu.
“Buat apa ketiga benda ini Muthi’ah” Siti Muthi’ah tersenyum malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Iapun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”
“Sungguh luar biasa pekertimu, Muthi’ah. Lalu untuk apa rotan ini?”
Kemudian aku berpakaian semenarik mungkin untuknya. Setelah ia bangun dan mandi, kusiapkan pula makan dan minum untuknya. Setelah semua selesai, aku berkata kepadanya: “Oh, kakanda. Bilamana pelayananku sebagai istri dan masakanku tidak berkenan dihatimu, aku ikhlas menerima hukuman. Pukullah badanku dengan rotan ini dan sebutlah kesalahanku agar tidak kuulangi”
“Seringkah engkau dipukul olehnya, wahai Muthi’ah?” tanya Fatimah berdebar-debar.
“TIDAK PERNAH, FATIMAH. BUKAN ROTAN YANG DIAMBILNYA, JUSTRU AKULAH YANG DITARIK DAN DIDEKAPNYA PENUH KEMESRAAN. ITULAH KEBAHAGIAAN KAMI SEHARI-HARI”.
“Jika demikian, sungguh luar biasa, wahai Muthi’ah. Sungguh luar biasa! Benarlah kata ayahku, engkau perempuan berbudi baik.” kata Fatimah terkagum-kagum.

Ukhti Muslimah, masih adakah wanita seperti itu saat ini? Atau sebaliknya, yang kita dapati adalah wanita-wanita yang tidak lagi memiliki rasa malu dengan menghadirkan lelaki ajnabi kedalam rumahnya, bahkan berhubungan dengan mereka diluar batas syari. Yang kita dapati adalah wanita-wanita yang berharap ‘kasih sayang’ seorang pria rupawan dan mapan, dengan hanya karena kalimat-kalimat manis yang diberikan sang kekasih idaman sehingga ia rela ‘menjual’ dirinya demi mendapat kenikmatan semu yang menipu?. Sehingga peringatan orangtua, suami pun dibantahnya, ditentangnya bahkan ‘dicerai’nya. Na’udzubillah...

ILAIKA AYYUHAL MUSLIM (Ikhwan Only)
Akhi... Anda adalah Qawwam, pemimpin atas wanita, Anda adalah saudara laki-laki dari wanita, saudara kembar saudara wanita, Anda adalah calon ayah bagi anak-anak wanita. Maka hargailah ia, hormati dan muliakanlah sebagaimana Islam memuliakan mereka. Cintai mereka sebagaimana Anda mencintai saudara perempuan Anda, sayangi mereka sebagaimana Anda menyayangi anak-anak perempuan Anda.

Ana yakin Anda akan membenci orang-orang yang membuat mereka terluka, marah dan tersinggung. Ana yakin Anda akan merasa terhina jika mereka dihinakan, dicemooh dan disakiti hatinya. Maka mengapa Anda tega melakukannya kepada wanita-wanita lain. Apalagi mereka adalah wanita-wanita muslimah yang mencoba menjaga dirinya dengan syariat Islam, yang mencoba menutup auratnya dengan baik sebagai langkah awal ketundukan mereka kepada syariat Islam lainnya. Mengapa anda tega merusaknya dan merobek hijabnya demi untuk memuaskan nafsu Anda.

Akhi, jika Anda membenci hal-hal tersebut terjadi kepada saudara perempuan Anda, Ibu, istri dan anak-anak Anda mengapa Anda tidak membenci perbuatan yang Anda lakukan tersebut sebagaimana kebencian Anda jika hal tersebut menimpa keluarga Anda?

Akhi, Jangan Anda hinakan mereka dengan tipu daya yang menyesatkan, jangan Anda jerumuskan mereka dengan kata-kata manis yang menipu, Jangan Anda telantarkan mereka setelah sebelumnya Anda buai dengan janji-janji manis.* Anda tahu apa efek yang akan timbul jika kalimat-kalimat tersebut menembus relung hatinya? LUAR BIASA AKHI! Dan Anda akan ketahui efeknya jika kalian telah berstatus SUAMI DAN ISTRI. Nah, jika efek tersebut timbul sebelum gelar tersebut ada pada kalian berdua, maka zina, zina dan zina yang akan kalian lakukan. Naudzubillah...

Akhi, sadarkah Anda bahwa rayuan-rayuan dan kalimat-kalimat indah yang kalian utarakan kepada mereka menjadikan mereka terbuai mimpi indah semu, menjadikan mereka hilang ingatannya, sehingga tidak lagi menyadari bahwa apa yang telah mereka lakukan telah berpaling jauh dari hidayah-Nya. Sehingga apa yang telah mereka ketahui dari batasan-batasan syar'i menguap bersamaan dengan janji-janji manis dan rayuan busukmu?? Akhi, apakah itu yang Anda inginkan terjadi pada saudara perempuan, anak perempuan dan istri Anda?

Tahukah Anda, betapa sakitnya hati mereka ketika Anda memutuskan untuk meninggalkan mereka disaat angan mereka melambung tinggi karena harapan-harapan yang Anda beri, terfikirkah oleh Anda ketika mereka tidak ridha atas apa yang telah Anda lakukan dan kemudian mereka mendoakan keburukan kepada Anda???

Akhi, tahukah jika dalih apapun yang akan Anda kemukakan tidak akan mengurangi hukum yang telah ditetapkan oleh syariat?? Dalih Anda untuk menjalin silaturahim tertolak karena hal itu hanya terjadi pada hubungan Anda dengan Ajnabi, lain halnya jika hal tersebut Anda juga lakukan kepada Ikhwan dan kerabat Anda. Jujurlah pada diri dan buktikan bahwa selama ini Anda telah menyalahgunakan dalih-dalih syariat untuk kepentingan syahwatmu?? Fahamilah Akhi, bahwa setan tidak pernah berhenti untuk mengajak kita menjadi salah seorang “warga negaranya” (JAHANNAM). Wallaahu a'lam.

Akhi, marilah sama-sama kita jaga mereka sebagai mana kita menjaga keluarga dan kerabat kita. Dengan tidak memainkan perasaan mereka. Kita jaga kehormatan mereka sebagaimana kita menjaga kehormatan keluarga dan kerabat kita, dengan tidak menebar sinyal-sinyal negatif yang dapat menjatuhkan mereka ke lubang zina.
Akhi, apa yang Anda tunggu?
Jika Anda mengaku beriman, Anda tidak akan menduakan Allah dalam cinta dan ketundukan. Kalo Anda katakan cinta karena Allah, maka nikahi ia segera. Dan karena keimanan Anda, tidak akan ada lagi alasan-alasan duniawi yang akan menghalangi Anda untuk menikahinya.

Jika Anda mengaku Mujahid, Anda tidak akan berlaku zalim kepada mereka, bersifatlah kesatria, jika Anda berminat dengan salah seorang diantara akhwat muslimah datangi rumahnya, lamar ia dengan meminta kepada kedua orangtuanya daripada memberi harapan-harapan semu.

Akhi, sikap Anda memainkan perasaan wanita muslimah tidak lain adalah perbuatan seorang pecundang yang lari dari kenyataan, tidak berani mengambil resiko, takut akan tanggung jawab dihadapan. Jauh dari sikap ksatria dan yang lebih parah sikap Anda yang seperti itu adalah perilaku ORANG-ORANG YANG TIDAK BERIMAN KEPADA ALLAH DAN HARI PEMBALASAN. NA'UDZUBILLAH.

Kenapa ana katakan Anda tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir? Ana akan beritahukan kepada Anda;
1. Ketika Anda beralasan bahwasannya Anda belum siap.
Ana katakan, bagaimana mungkin Anda katakan belum siap untuk menikah, sedangkan Anda selalu siap untuk menjawab smsnya, menjawab telponnya atau bahkan siap mengantarnya kemanapun sang pujaan pergi.
Bagaimana mungkin Anda katakan belum siap, dengan menikah perjalanan menuju jannah-Nya menjadi mudah tapi Anda malah menjalani perjalanan ke Jahannam yang susah (karena harus JAIM dengan orang banyak). Seolah-olah Anda ingin mengatakan, ana belum siap nih jadi penduduk syurga, ana mau ke Jahannam dulu ah... aasif.

2. Anda katakan belum punya uang untuk menikah, atau belum mapan.
Ana katakan betapa kerdilnya pemikiran Anda seolah pernikahan adalah hitung-hitungan matematis yang dengan begitu saja kita dapat jumlahkan. Kita lupa, bahwa belanja sehari-hari yang telah kita keluarkan adalah bukti bahwa kita punya uang. Kita lupa bahwa setiap usaha yang kita jalankan akan menghasilkan, berapapun jumlahnya. Dan yang paling sering dilupakan adalah disana ada SANG MAHA PEMBERI REZEKI yang sudah memberikan jatah yang pas dan tepat untuk setiap makhluknya. Anda seorang diri, sudah jelas rezekinya. Hanya tinggal menjemput, nah dengan kedatangan ‘orang baru’ kenapa Anda khawatir akan rezekinya seolah-olah Anda yang memberi rezeki kepadanya, seolah-olah jika anda tiada, mereka akan mati gitu? Sombong sekali Anda.

3. Jika masih ada alasan-alasan duniawi lainnya,
Akhi, ana katakan kepada Anda, pernikahan bukan sekedar istimta’ tapi dia lebih agung dan mulia daripada itu. Dan istimta’ juga bagian dari kemuliaan pernikahan itu. Akhi, dunia hanyalah tempat persinggahan yang tak lama, dan dunia adalah ladang dimana kita seharusnya memperbanyak amalan dan ibadah kita untuk mendapatkan rahmatnya kelak sehingga Allah subhaanahu wata’aala berkenan memasukkan kita kedalam ashabul yamin.

Akhi, Pernikahan bukan sekedar urusan dunia dengan memperbanyak keturunan didalamnya. Pernikahan adalah sebuah peribadatan yang didalam mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Pernikahan adalah sebuah bentuk kebenaran iman kita kepada Allah subhaanahu wata’aala. Pernikahan adalah sebuah solusi yang mencerahkan bagi kehidupan Anda dimasa mendatang kelak. Insya Allah. Wallaahu a’lam.

Akhwat dan Ikhwan fillah...
Demikianlah sedikit renungan yang dapat ana berikan kepada antum semua, sebagai peringatan bagi kita yang suka lalai kepada-Nya. Semua yang ana tulis disini tidak lain dalam rangka usaha untuk perbaikan diri. Semua yang yang ditulis bukan hanya untuk antum, tapi juga buat ana pribadi. Karena rasa cinta ana kepada antum semua, cinta karena Allah insya Allah. Sebentuk cinta kekhawatiran akan kondisi kita semua, khawatir bahwa hati-hati kita telah terjebak dalam kesyirikan, sebentuk cinta peringatan akan bahaya yang mengancam dari hubungan-hubungan ‘ilegal’ yang diharamkan. Karena CINTA TIDAK MENJERUMUSKAN KEDALAM LUBANG KEHANCURAN.

Ikhwati, kita semua sudah memposisikan sebagai kader dakwah dan jihad. Sebuah posisi yang luarbiasa yang tidak semua orang mau bergabung didalamnya. Karena beratnya ujian, terjalnya jalan dan tajamnya kerikil-kerikil tajam yang menghalangi. Sebuah jalan yang hanya diikuti oleh sedikit orang yang mengaku sebagai muslim. Maka dari itu, ana yakin bahwa jalan dakwah ini tidak akan dapat dilalui kecuali oleh orang-orang yang shadiq (benar dalam berbuat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah), shalih dan sabar. Dan merekalah yang dipilih oleh Allah subhaanahu wata’ala untuk mengemban risalah-Nya.

Jika kita mati dalam keadaan sebagaimana tersebut diatas, maka insya Allah Jannah Firdaus dan pelayan-pelayannya akan siap menanti kita. Akan tetapi apabila sebaliknya, maka mencium wanginya pun tidak akan pernah kita dapati. Maka jangan kita merasa yakin dengan berada dalam dakwah ini serta merta kita masuk kedalam jannah-Nya. Bahkan semestinya kita introspeksi, apakah justru kita mengotori dakwah ini dengan perilaku-perilaku menyimpang kita?? Sehingga bukannya membawa kita kepada keindahan Jannah-Nya malah membawa kita kepada kelamnya Jahannam??. Na’uudzubillah


0 comments:

Post a Comment